Minggu, 06 Juli 2014

Aborsi sah di Meksiko

Badan legislatif Kota Meksiko mengesahkan aborsi di ibukota negara Katolik kedua terbesar dunia.

Empat puluh enam anggota DPRD mendukung rancangan undang undang yang mengizinkan aborsi janin berumur sampai 12 minggu. Anggota yang menolak berjumlah 19 orang.

Sebelumnya Kota Meksiko hanya mengizinkan aborsi korban perkosaan, jika nyawa ibu terancam atau jika terdapat tanda tanda kecacatan janin.

Kelompok yang anti hukum aborsi tersebut akan mengajukan tuntutan ke pengadilan.

Kekhawatiran gereja

Wartawan BBC di Kota Meksiko, Duncan Kennedy melaporkan dalam beberapa tahun terakhir sejumlah kelompok berusaha meningkatkan hak wanita yang menginginkan perubahan, sementara kelompok konservatif gereja Katolik berusaha keras agar hal tersebut tetap dilarang.

Kota Meksiko adalah salah satu kota terpadat di dunia. Delapan juta 700 ribu orang tinggal di kota tersebut, sementara jumlah keseluruhan penduduk Meksiko adalah 106 juta orang, lapor PBB pada tahun 2005.

Pemungutan suara tentang aborsi memecah belah penduduk Meksiko yang 90 persen adalah warga Katolik. Minggu lalu paus Benediktus XVI mendorong uskup Meksiko untuk menyatakan penolakan.

Sebelum pemungutan suara, polisi anti huru hara memisahkan para pengunjukrasa yang saling mengejek di luar gedung parlemen.

Sekitar 200 ribu aborsi gelap dilakukan di Meksiko setiap tahun.

Paling tidak 1.500 wanita meninggal karena aborsi ilegal di klinik gelap yang tidak sehat.

Sebagian besar anggota perkosaan dilarang mendapatkan aborsi sah, lapor Human Rights Watch tahun lalu.

DPR Kota Meskiko telah menciptakan kontroversi di masa lalu. Mereka mengizinkan hubungan sipil sesama jenis kelamin dan saat ini sedang mempertimbangkan untuk membolehkan euthanasia atau tindakan membunuh untuk menghilangkan penderitaan orang sakit.