Minggu, 06 Juli 2014

Musuh perusak dalam diri anda

Jika anda seorang post abortus dan merasa terperangkap dalam kehidupan yang tidak anda inginkan, mungkin anda merasa kesalahan anda di masa lalu ( baca:aborsi) telah membuat kehidupan anda menjadi terpuruk. Anda merasa tidak bahagia, tidak cukup baik, penuh amarah dan kebencian atau bisa jadi anda mengalami depresi. Menjadi seorang post abortus bukan berarti anda tidak layak memiliki kehidupan yang lebih baik. Sebuah kesalahan di masa lalu tidak dapat menjadi ukuran masa depan anda. Jika anda sudah menyadari hal ini namun masih merasa sulit bersyukur atas kehidupan anda sendiri, bisa jadi anda memiliki musuh perusak dalam diri anda sendiri. Bagian dari diri anda yang merusak anda secara pelan-pelan dari kemungkinan mendapatkan kesempatan atas sebuah kehidupan yang lebih baik.
Apa saja musuh perusak dalam diri anda ?
PERFEKSIONISME
Seorang perfeksionis membuat standar tinggi bagi dirinya yang tidak realistis. Seringkali seorang perfeksionis menjadi frustasi bukan karena akibat atau ulah orang lain namun merupakan akibat dari standar-standar tinggi dan kaku yang telah di buatnya sendiri. Memaksa diri sendiri mencapai sebuah kesempurnaan adalah suatu hal yang tidak wajar, karena ketidaksempurnaan itu sendiri adalah bagian yang sangat manusiawi.
Mungkin anda telah menerapkan standar tinggi terhadap diri anda, dan ketika ternyata ekspetasi anda keliru maka anda menjadi sulit menerima kenyataan. Tidak ada seorang pun perempuan di muka bumi yang berekspektasi menjadi seorang post abortus. Ketika ternyata anda mengambil keputusan melakukan aborsi tanpa memahami konsekuensinya, seringkali seorang perfeksionis sulit menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri. Sadarilah bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan dan tidak ada sebuah kesempurnaan tanpa suatu kesalahan. Ketidakpuasan anda terhadap diri anda sendiri tidak dapat mengubah kenyataan di masa lalu anda.
RASA BERSALAH
Rasa bersalah bersumber dari hati nurani. Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, maka jauh di dalam dirinya akan ada suara yang menuntunnya untuk mengatakan kebenaran, ketika kita memilih untuk tidak menyampaikan atau menyatakan kebenaran ini maka rasa bersalah akan muncul. Jika kita melakukan kesalahan pada orang lain maka kita akan cenderung meminta maaf untuk memerdekakan diri kita dari rasa bersalah tersebut. Namun jika kita melakukan kesalahan terhadap diri sendiri, lalu bagaimana memerdekakan diri kita dari rasa bersalah?
Tidak sedikit seorang post abortus yang justru terperangkap dalam rasa bersalah, karena rasa bersalahnya inilah kemudian ia mewajarkan hukuman bagi dirinya sendiri dan menutup pintu kasih bagi dirinya. Memaafkan diri sendiri memang tidak mudah, namun patut anda coba. Karena perjuangan memaafkan diri sendiri tak seberat ketika anda harus berkutat dengan rasa bersalah anda. Tidak hanya anda yang menjadi rusak karenanya, namun orang-orang di sekitar anda pun akan terpengaruh karenanya. Lawanlah rasa bersalah yang mengendalikan anda dan berikan penghormatan tertinggi bagi diri anda dengan menerima maaf dan pengampunan tuhan.
KEBENCIAN
Seorang post abortus merasakan rasa benci ketika mengingat pengalaman aborsi yang menyakitkan. Tidak hanya benci terhadap diri sendiri namun juga rasa benci itu di tujukan pada orang-orang yang ikut berperan dalam peristiwa aborsi traumatis tersebut, misalnya pasangan anda yang turut serta memberi pengaruh dalam membuat keputusan. Kondisi bisa lebih buruk dan rasa benci lebih mendalam ketika justru pasangan anda meninggalkan anda tanpa memberi anda dukungan melewati masa-masa kritis dalam kehidupan anda. Rasa benci adalah kumpulan dari berbagai emosi yang menumpuk menjadi satu gumpalan amarah yang siap meledak. Rasa benci adalah sesuatu hal yang wajar, sebuah respon emosi dari dalam diri anda ketika sesuatu yang mengecewakan atau bahkan menyakitkan diri anda terjadi. Namun rasa benci dan kebencian adalah dua hal yang berbeda sekalipun memiliki rupa yang sama. Kebencian adalah rasa benci yang terus menerus anda pelihara dalam diri anda. Kebencian yang di beri tempat akan berkembang menjadi sebuah senjata perusak yang diam-diam dapat membutakan anda dari kemungknan melihat kebenaran dan cinta kasih. Berhati-hatilah dengan kebencian. Kebencian yang anda tunjukkan pada orang lain akan menjadi boomerang dan pada akhirnya menghancurkan harga diri dan kasih yang ada di dalam diri anda.
KEKHAWATIRAN
Kekhawatiran bisaanya berpangkal dari fikiran. Kekhawatiran kadang-kadang di perlukan untuk membuat kita lebih berhati-hati, namun kekhawatiran yang terlalu berlebihan dapat menjebak kita pada situasi di mana kita tidak dapat mengambil keputusan. Pada kondisi seperti itu maka hidup kita menjadi stagnan dan labil. Satu kekhawatiran bisaanya diikuti oleh kekhawatiran lainnya dan pada akhirnya menjadi sebuah lingkaran setan yang memenjarakan anda pada kondisi yang itu-itu juga.
Bagi seorang post abortus kekhawatiran terbesar adalah ketakutan tidak diterima oleh orang-orang yang di kasihi, kekhawatiran akan judgment dan penerimaan orang lain. Hal itu pulalah yang pada akhirnya mencegah seorang post abortus mencari bantuan untuk keluar dari permasalahannya dan akhirnya terebak dalam berbagai kondisi yang menghantuinya. Lepaskanlah kekhawatiran anda karena pada dasarnya kekhawatiran anda adalah mesin perusak yang mencegah anda dari mengambil kesempatan emas yang menjadi hak anda. Sadarilah bahwa kekhawatiran dating dari dalam fikiran anda dan belum tentu orang lain akan bereaksi seperti yang anda bayangkan. Seringkali ketika Tuhan turut campur dalam urusan manusia, maka segala prasangka dan ketakutan manusia tak terbukti.